Grateful   Leave a comment

/* A copy from my other notes with a bit modification*/

March 28, 2010 ,
Hari ini sy mendapat pelajaran dari seorang kawan zaman SMA dan kuliah dulu. Beberapa menit seblm sy tulis note ini, kita sempet ngobrol lewat messenger. Dia bertanya apa perasaan saya ketika sedang jauh dari keluarga dan mendapati bahwa istri sedang sakit serius. Istri memang saat ini sedang diuji Tuhan dengan sakitnya yg cukup serius yg tidak terbayang sebelumnya dia akan mendapat ini.
Dengan santai tapi sedikit berpikir saya jawab, “ya sedih, ga bisa ngapa2in pastinya. Lo aneh2 aja pertanyaannya”. Terus dia bertanya lagi apa yg akan saya lakukan ketika itu terjadi. Saya jawab, “gw bersimpuh dihadapan Allah, benar benar minta ampuuun, mohon diberikan kesembuhan dsb. Kemudian dia lanjut berkata, ini sesuai ketikan messengernya ==> “bhwa pd point2 dibalik kesedihan kita, sbnrnya ada rasa takut…. rasa takut kehilangan org2 yg kita sayangi. Cuma yg jelas, setiap saat kita hrs siap mati dan atau ditinggal mati org2 yg kita sayangi. Itu yg kadang2 blm merasa siap…. Kemudian perbincangan pun berlanjut ke topik lain.

Segera setelah kalimat itu meluncur, saya tidak mampu berkonsentrasi berpikir multitasking meneruskan obrolan di messenger. Saat itu jg saya merenung, ya Allah, kita tuh jadi manusia bener bener bodoh atau sombong ya? Kenyataan bahwa kita Allah masih mengkaruniai kita dengan orang orang yang kita cintai disekeliling kita kok bisa seringkali terlupa ya? Kita sadar tiap hari mereka selalu, setiap saat, berinteraksi dengan kita dari yang namanya berbicara normal, kesal, sedih, tertawa bersama, mengejek dan lainnya. Tapi tiap hari itu juga kita lebih sering tidak sadarnya bhw mereka ada karena Allah kasih nyawa sama mereka. Dan, bam!, pada keterbiasaan itulah kita terlupa bahwa keberadaan mereka adalah berkah Allah. Artinya, kalau Allah dengan kuasaNya mencabut nyawa mereka, baru kita tidak biasa. Betul tidak logikanya ya, hmmm *sambil mikir sendiri*).

Saat itu terasa sekali rasa syukur saya pada Allah. Rasa syukur yg murni terasa dari dalam hati. Ternyata dengan menggunakan formula “What-if” yang biasa dipakai berbagai aplikasi Decision Support bisa jg efektif, tidak hanya untuk perusahaan, tapi juga pada manusia🙂.

What if bila bulan depan ibu kita yang biasanya lebih sering kita tinggalkan karena alasan kesibukan luar, ibu yang sering menelepon menanyakan agar kita jangan lupa makan pagi atau menanyakan kapan pulang dan sering kita jawab dengan jawaban sekenanya, esok, 1 jam lagi tiba-tiba meninggalkan kita?

What if bila minggu depan ayah kita yang biasanya sering berdebat dengan kita karena kita suka anggap tidak mengerti diri kita, ayah yang seringkali kita pulang kita langsung masuk kamar, esok meninggalkan kita?

What if bila kakak/adik yang padanya biasanya kita tidak akur kalau dekat dengan kita karena rebutan apa pun yang ga penting, sampai orang tua sendiri pusing, lusa meninggalkan kita?

What if bila suami/istri, orang yang 24 x 7 menjadi sahabat/partner/pasangan kita, orang yang paling tau diri keinginan kita, orang yg paling tau obat2an kita dikala sakit, suami/istri yang kalau dia pergi sepekan keluar kota utk dinas kita langsung ingin cepat ketemu, orang yang setiap hari sejak bangun hingga tidur muka terjelek hingga muka terbaiknya kita tahu, orang yang paling sering jadi tempat interaksi dalam sehari, besok sudah meninggalkan kita?

What if bila anak anak kita yang kita sayangi, tanpa lelah kita cukupi kebutuhannya apa pun yang kita mau sebisa kita, yang kita selalu sepertinya tidak pernah cukup untuk memastikan that they’re gonna be alright ketika mereka masuk PG, TK, SD, SMP, SMA, kuliah, kos, kerja, menikah, hingga menjadi seorang ayah/ibu, 1 jam lagi meninggalkan kita terlebih dahulu?

What if….What if…apakah kita sudah benar benar siap? Sementara kita seperti sudah “terbiasa untuk lupa” bahwa mereka punya jatah waktu hidup, sama seperti kita. Have we been grateful for that?

Ternyata karunia Allah sungguh real, tunai di depan kita, tiap hari, tiap detik. RahmatNya ada pada wujud orang orang yang kita cintai yang ada dihadapan kita saat ini, yang masih bisa hidup berbicara, bergerak, berlari, berlompatan, dan berlaku lainya. Kita saja yang harus sering sering berlatih untuk memelihara rasa takut kehilangan orang orang yang kita cintai. Tepat sekali bhw kematian itu mendidik kita jadi lebih bersyukur.

-special thx for kores-

Posted July 15, 2011 by hamzahritchi in Family

Tagged with , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: