Archive for the ‘Everyday’ Category

Commemorating Muki (Arrianto Mukti Wibowo)   Leave a comment

It’s striking me to know the news that you already leave forever from a friend. We did very few communications and, in fact we really never meet in person. One thing for sure though, we share the same interest in information system governance domain. But this unbelievably way of interaction does not hinder me to get a nice impression of how spiritful you are. Since then I claim myself as part of those who keep an eye to your website. You even pave the road and the opportunity for community learning. You open all resources which are somewhat others might have kept in a securely locked top secret folder. This is what exactly I’m doing right now, broadcasting your knowledge to the whole universe. Trust me, I’m learning to follow your move.
Now the Almighty has decided to take you there. I don’t have any information of the cause of your leaving, but anyhow, I would say you are probably better there. God loves you more, and definitely, sending you there is much much best place to go. Please need not worry buddy, because you have stocked your own remembrance with a handful of fruitful, knowledge, which is long lasting and will not fad away or be corroded in any other way.
My thoughts and my heart sincerely are with you and your family. I cherish all the good things you have delivered to the world. Good bye Muki.

Advertisements

Posted October 25, 2011 by hamzahritchi in Everyday

Pengacara (atau) Selebritis?   Leave a comment

Iseng iseng baca baca detik news, salah satu berita seputar selebritis adalah tentang seorang model/pemain sinetron muda yg sedang menanti peradilan karena kasus penggunaan narkoba. Adapun kasus ini punya cabang kasus yang ga kalah panas lho, yaitu kisah percintaan (read: perselingkuhan, krn sang pengacara sudah beristri) yang terjadi antara sang artis dengan pengacaranya. Singkat kata, saya tertarik untuk mengetahui lebih dalam si pengacara itu. Kebetulan ybs punya akun FB, so sy add lah dia.

Ada beberapa hal yang membuat cukup tertegun ketika masuk ke akun ybs. Postingan wall didominasi oleh komentar-komentar yang mengajak sang pengacara agar tidak terjerumus lebih dalam di perselingkuhan. Ada yang bernada kritik membangun ada yg sarkastis membela istri sang pengacara. Bingung juga sih, dalam situasi sekarang, hampir pasti orang orang yg dia confirm jadi friend adalah orang orang yang sama sekali dia ga kenal dan pasti akan “menghadiahi” dia komentar komentar yang bisa bikin kuping merah. Tapi tetap juga diterima. Termasuk si Hamzah ini, hehe. Anyway, yang tadi ga penting banget, krn bukan fokus note ini.

Jauh lebih dalam, lebih terpana (pilhan kata yang bagus ga ya?) saya melihat foto foto beliau. 90% posting foto-fotonya adalah foto-foto yang bersanding oleh para kepala kepolisian, TNI dan juga artis. Ada juga foto-foto beliau di belakang meja yang diatasnya bertumpuk-tumpuk uang kertas sambil berpose dengan memegang senjata api. Entah uang palsu atau bukan, entah uang hasil sitaan kepolisian atau bukan, yang jelas foto-foto itu seperti ingin memamerkan bahwa,”Jangan macem macem sama gw, lo urusan sama gw, lo urusan juga sama si A, si B, dan si senjata api.

Kalau sekiranya motivasi beliau menunjukkan foto itu untuk memberikan kekaguman bagi yang melihatnya, kenapa saya memiliki impresi yang jauh bertolak belakang ya. Kesan yang saya miliki justru mempertanyakan, memang kenapa dengan uang yg bertumpuk2 itu? kenapa dengan senjata apa itu? kenapa berpose dengan para kepala kepala kepolisian, pejabat, dan TNI? Memang senjata api bisa diperoleh dengan izin khusus, tapi seberapah khusus kah si pengacara hingga punya senjata api? kok bebas-bebas aja masuk ke dalam komplek kepolisian/TNI yg penuh dengan senjata otomatis dan dia bebas memegangnya? Bukankah institusi itu punya prosedur khusus? Belum terjawab hingga kini.

Setidaknya hal ini bagi saya justru menggiring ke arah kesan sebuah profesionalitas seorang pengacara jangan jangan memang tidak ditentukan secara dominan oleh kemampuan hukum ybs, tapi seberapa banyak kemampuan mereka menghimpun pulau-pulau kekuatan “kekuasaan” yang diperolah dari para pejabat, dalam memuluskan kasus kasus yang mereka emban. Dan untuk memperoleh kekuasaan itu, sad but true, there’s no such thing like freelunch. Saya ga membicarakan suatu rahasia umum di masyarakat bahwa profesi penegak hukum, termasuk diantaranya pengacara, tidak bisa benar benar bersih.

Yah, walau itu hanya kesan, tapi cukup menakutkan bagi seorang warga negara yang ingin percaya akan kekuatan keadilan di bidang hukum. Akuntan boleh ga ya punya senjata api license??

Posted July 15, 2011 by hamzahritchi in Everyday

Tagged with , , , , ,

Silau dengan Buku   Leave a comment

Dulu sejak SMA hingga kuliah, paling silau sama Korg, Marshal JCM900, rasanya seneng berlama lama liat (efek beli tapi ga mampu) ngeliat berbagai macam aksesoris. Ngeliat gitar Strat Mustang atau Telecaster rasanya semangaat banget. Sampe akhirnya kesampean punya gitar sendiri. Sayang gitarnya hilang digondol maling on the very first day I moved in to a new room, darn it!.

Sekarang, orientasi rada berubah (tapi tetep kepincut). Seneng banget ngeliat hard cover buku buku manajemen dan strategi. Terakhir kemarin sama sahabat lama jalan jalan ke PS abis ngurus ngurus visa dan exit permit ke sebuah toko buku. Wah, sangat banyak banget yg pengen kebeli…tapi harganya kurang ajar. Dari serinya Thomas Friedman sampe Lawrence Hrebeniak ada. Sayang, kenapa semua paper back atau hard selalu mahal ya?

*dan makhluk seperti saya itupun pergilah menuju dunia maya utk dapetin versi softcopy nya hehehe*

Posted July 15, 2011 by hamzahritchi in Everyday

Tagged with

Domestic Workers Tragic Life in Saudi Arabia   Leave a comment

TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca
Windoro Adi | Benny N Joewono | Kamis, 23 Juni 2011 | 08:38 WIB
Link: http://bit.ly/j4MyH9
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

KOMPAS.com – Juni 2009. Malam nan laknat itu datang. Di lantai tiga sebuah apartemen di Kota Hawali, Kuwait, pembantu rumah tangga Imas Tati (22) terpentang, terbaring telanjang di ruang tamu. Kedua tangan dan kakinya diikat pada kaki-kaki kursi. Majikannya, seorang pria berusia 30 yang ia panggil Baba, memandangi tubuh Imas dengan nanar. Tangan Baba menyentuh Imas.

”Ya Allah, Ya Rabbi,” bisik Imas dalam hati. Matanya berkaca-kaca. Tak berapa lama, air matanya tak terbendung lagi, mengairi pelipisnya. Ia terus menderas asma suci Allah dalam hati. Tangan dan kakinya terus meronta, menolak disentuh. Tapi Baba tambah bernafsu. Ia bukan hanya menyentuh, tetapi memukuli Imas.

Mata Imas terkatup rapat menahan rasa sakit, rasa takut, terhina dan marah. Ia meredamnya dengan terus menyebut asma suci Allah. Giginya menggigit bibir.

Tiba-tiba telepon genggam Baba berbunyi. Istrinya, Nyonya ”Z”, seorang dokter bedah, pulang. Baba buru-buru memakai pakaiannya. Imas pun ia lepas. Sambil berpakaian, Baba lalu menjambak rambut Imas dan mendekatkan mulutnya pada telinga Imas. Baba berbisik, ”Kalau kamu melawan, saya akan terus menjadi ancaman buat hidupmu. Seharusnya kamu mau melayani saya dan menerima lebih banyak uang untuk keluargamu." Tangan kiri Baba masih menjambak rambut Imas.

Imas membisu. Babak berikutnya adalah babak sandiwara sepasang suami istri. Setelah melayani keduanya, Imas pergi tidur. Tetapi di kamarnya, ia tak bisa memejamkan mata. Ini adalah yang kesekian kalinya ia nyaris diperkosa. Terakhir, ia hendak diperkosa si Baba dan lima keponakan prianya.

Ceritanya, usai mengantar belanja, Imas diminta tetap di mobil bersama kelima keponakan pria Baba. Ternyata mereka berniat memperkosa Imas. Sambil berjalan, kelimanya membekap Imas. Hampir seluruh pakaian Imas termasuk pakaian dalamnya sudah lepas. Demikian pula pakaian ke lima keponakan Baba.

Karena Imas terus meronta, kelima pria lamban mewujudkan niatnya. Saat kendaraan hendak sampai apartemen Baba, Baba mengingatkan kelima keponakannya agar mengurungkan niatnya. ”Kita cari waktu lain saja yang lebih leluasa,” ucap Baba. Meski kecewa, kelima keponakan menuruti permintaan Baba.

Lari

Imas mengejapkan matanya, mengusir genangan air mata. Ia masih terbaring di tempat tidur. Bayangan tentang Baba yang terus berusaha mencicipi tubuhnya di dapur, di ruang tamu, di ruang makan, bahkan di kamar mandi, membuatnya makin gelisah. Peluang Baba memperkosa Imas banyak. Sebab, Baba sehari-hari di rumah sementara istrinya setiap hari berangkat pagi, pulang malam. Hampir seluruh waktu Nyonya Z, dihabiskan di rumah sakit.

Tapi lama-lama Imas tak ingin lagi menjadi seekor ikan yang cuma bisa menggelepar tanpa suara. Imas ingin lari tapi, ragu bila mengenang kembali cita-citanya bekerja untuk membiayai sekolah adiknya, dan membantu ekonomi orangtuanya di desa.

Ingatan tentang penderitaannya selama menjadi pembantu rumah tangga di Arab Saudi kemudian menepis cita-cita Imas. Ia lalu menguatkan tekad untuk kabur.

Pagi pukul 05.00, ia melepas dan menyambung-nyambung kain korden dan selimut. Ia pun mengendap-endap turun dari lantai tiga. Sampai di lantai dua, ia jatuh. Niatnya kabur gagal. Di depan istrinya, Baba pun mencaci maki Imas. ”Dasar budak tidak tahu diuntung!”. Mendengar teriakan itu, Imas tak ingin lagi jadi seekor ikan. Ia berkata, ”Saya tidak akan berbuat seperti ini bila majikan saya baik”.

Imas lalu dibawa ke Rumah Sakit Mubarak. Setelah dua pekan di rumah sakit, ia diberi tahu kakinya mungkin lumpuh dan harus diamputasi. Ia menjawab dengan menggelengkan kepala dan menangis.

”Tulang punggung saya dibagian tengah, hancur dan mendapat 40 jahitan luar dan dalam. Kedua engsel kaki saya pecah. Tulang-tulang yang rusak ini dipasangi pen,” kata Imas saat ditemui di pondokan Migrant Care di kawasan Jakarta Timur, Rabu (22/6/2011) sore.

Ia lalu menunjukkan bekas jahitan di punggung dan kedua pergelangan kakinya. Maret 2010, pen-pen di kedua pergelangan kakinya, dilepas di Rumah Sakit Polri Raden Said Soekanto, Kramatjati, Jakarta Timur.

Indonesia Raya

Sebelum bekerja pada Baba dan Nyonya Z, Imas, gadis Desa Ciparai RT 1/RW 7, Leuwi Mundaling Majalengka, Jawa Barat ini, bekerja pada keluarga polisi, J (30). Rumahnya di Jalan Mubarak al-Kabir. Di tempat ini, J sering menyiksa Imas.

”Saya sering jadi bulan-bulanan kekesalan dia meski saya tidak bersalah dan diam. Saya dipukuli dan ditendangi. Saya sudah seperti bola saja. Dia sering baru berhenti menganiaya setelah saya pingsan. Bahkan kadang, saat dia belum puas menyiksa saya, dia mengguyur saya supaya sadar, lalu memukuli saya lagi,” papar Imas.

Ketika ia melaporkan kasus ini ke KBRI, Imas justru dijebloskan penjara oleh majikannya yang polisi. ”Orang-orang KBRI tidak membela saya ketika mereka melihat saya diseret-seret dan dibawa ke penjara,” tutur Imas. Ia mengaku tidak digaji selama bekerja pada polisi J.

”Waktu saya di KBRI, saya dikejar-kejar agen pembantu. Saya lalu dijual ke keluarga lain dengan harga Rp 15 juta. Begitu seterusnya sampai saya bekerja di rumah Baba,” ungkap Imas.

Ia sempat bekerja dengan tenang di dua keluarga. Ia digaji sebulan 50 Dinar atau sekitar hampir Rp 2 juta. ”Tapi baru empat-lima hari bekerja, agen pembantu menteror majikan saya. Saya pun dilepas dan dijual kembali ke keluarga lainnya,” ujarnya.

Menurut Imas, Warganegara Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab, dilarang memakai bahasa Indonesia. ”Kalau menyanyi Indonesia Raya?”. ”Aduh…,” jawabnya sambil menggelengkan kepala.

Korban lain

Sejak Februari 2011, Imas berada di Indonesia. Saat dirawat di Rumah Sakit Polri, ia bertemu dengan seorang pembantu rumah tangga lainnya yang juga dirawat. Namanya Basaeri (25). Tulang punggung Basaeri patah. Beberapa jaringan syarafnya rusak. Ia tidak bisa lagi berkomunikasi. Bicaranya kacau.

Imas bercerita, Basaeri adalah pembantu rumah tangga yang bekerja di Suriah. Saat mengepel, ia jatuh didorong anak majikannya. Bukannya mendapat perawatan, Basaeri justru dianiaya. ”Sekarang dia sudah meninggal. Dia meninggal waktu dioperasi,” tutur Imas.

Nasib serupa juga dialami kawan Imas lainnya, Dewiyanti asal Brebes, dan Muslimah asal Tegal Gubuk, Indramayu, Jawa Tengah. Menurut Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah, tidak kurang dari lima ribu pembantu rumah tangga warganegara Indonesia mendapat kekerasan fisik selama bekerja di Arab Saudi. Dua ribu di antaranya, menjadi korban kekerasan seksual. "Di negeri lain jumlah korban lebih kecil," jelasnya.

Budak nafsu

Pembantu rumah tangga lainnya, Rosnani (48) mengatakan, apa yang dialami Imas, Basaeri, Dewiyanti, dan Muslimah, menjadi hal yang biasa terjadi di Arab Saudi. ”Sejak 1985 saya bekerja di Arab Saudi dan sudah beberapa kali pulang ke kampung halaman. Saya bertemu mereka dimana-mana. Nasibnya serupa. Kalau tidak jadi sasaran nafsu syahwat, ya jadi sasaran nafsu membunuh,” tutur perempuan asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan itu.

Ia berpendapat, para pembantu rumah tangga warganegara Indonesia hidup seperti budak di Arab Saudi. Dijual oleh para agen pembantu rumah tangga. Ditarik lagi dan ditempatkan di keluarga lain, demi mendapat Rp 15 juta – Rp 20 juta dari setiap transaksi jual beli. ”Kalau belum laku. Di suruh nunggu di kamar kaca kantor agen pembantu, sampai ada orang yang membeli,” ujar Rosnani.

Menurut Imas, dianiaya dan diperkosa berulang kali oleh majikan dan keluarganya, dijual dan diperas agen-agen penyalur pembantu rumah tangga, menjadi pengalaman sebagian besar kawan-kawan satu pekerjaan di Arab Saudi.

"Kalau sudah tua seperti saya, orang-orang itu engga doyan. Sebagai gantinya, saya diperas bekerja 22 jam setiap hari tanpa libur. Bangun jam 05.00, tidur jam tiga hari berikutnya. Dipukuli, disekap, diludahi, dilempar ke comberan,” lanjut Rosnani.

Ia mengaku, setelah memukuli, majikannya dengan mudah menempelkan pisau di lehernya sambil mengancam, ”Saya bisa gorok dan potong-potong kamu sesuka hati saya. Tidak ada yang melindungi kamu di sini bukan?”. Karena ancaman seperti itu datang berulangkali, Rosnani pun tidak tahan dan kabur dengan uang sendiri.

Rosnani mengingatkan, tidak mudah kembali ke Tanah Air setelah para perempuan pembantu rumah tangga terjerat jaringan agen pembantu rumah tangga. ”Bisa lepas dari agen dan punya uang untuk pulang saja sudah mujur,” tuturnya.

Meski mengaku nasibnya lebih beruntung, tetapi Rosnani tak mau lagi ke Arab Saudi menjadi pembantu rumah tangga. ”Lebih senang hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang,” katanya menutup percakapan. (WINDORO ADI)

Gebetszeiten Juli 2011.pdf

Posted July 1, 2011 by hamzahritchi in Everyday

Where are my friends   Leave a comment

I started loving playing in a band since my junior high school. There my first appearance was playing a dead metal music like Obituary’s, Sepultura, and gradually decreasing in term of the loudness and speed. This hobby is carried until my undergraduate study. But on that time, the music genre is totally different and precisely defined. I used to play speed metal, rock n roll and classic rock where it was really against music mainstream where people loves to hear top 40. Music like megadeth, led zepellin, uriah heep, janis joplin were among music I love.
And now, I’m started to miss that moment again. Now, most people at my age are busy with their job. Only few of them are still playing in a band, and they now turn into an artist. I wish that I can play again, at least for some leisure time in the middle of my time doing the office job. Just a thought.

Posted May 11, 2009 by hamzahritchi in Everyday

Recommended Novel – Negeri Van Oranje   3 comments

For the novel lover, I’ve just finished reading this novel (in Indonesia)..pretty much light reading. Anyway, I like the way the authors tell the whole story that makes me feel as if I were there. The story is about friendships of five Indonesian graduates student from various background. They were destined to meet each other in somewhere in Netherland. Since then, the story began.
But don’t expect too much for a very deep message from the book. After all, it’s supposed to be a light reading. Nevertheless, many things you can extract out of this book like friendship, love, and nationalism.
Sorry folks, I’m a bad teller, if you want to, just grab the book in Gramedia (shelved among “Best Seller” stock).

Posted May 6, 2009 by hamzahritchi in Everyday

Deepest Condolences for airplane crash…again   Leave a comment

A plane crash incident at the beginning of this week, so close to Indonesia general election struck was a horrible going. The 24 crews were all killed when the plane hit a hangar own by Dirgantara Indonesia Corporation (PT DI), a state owned plane manufacturer located at Husein Sastranegara air force base.
This accident certainly leaves us a pain in each people heart. It makes the list of plane crash accident even longer….
From the very bottom of my heart, I express my deepest condolence for the brave souls who were leaving before us. May the be rest in peace.

Posted April 7, 2009 by hamzahritchi in Everyday